Thursday, November 16, 2017

Kompetensi Kognitif dalam Pembelajaran Drama

Rekan guru bahasa Indonesia dan para siswa yang terkasih,
Dalam pembelajaran drama, kompetensi yang dikembangkan meliputi kognitif, motorik, dan afektif. Ketiga kemampuan atau kompetensi tersebut perlu Anda pahami dan kemudian disampaikan kepada siswa Anda. Dengan demikian, ketika proses pembelajaran itu berlangsung, Anda dan siswa Anda menjadi paham arah dan tujuan dalam proses pembelajaran.
Kompetensi kognitif dikembangkan dengan tujuan menanamkan pengetahuan dalam bidang sejarah, khazanah naskah, dan pementasan drama di Indonesia. Kegiatan pembelajaran dapat dikembangkan melalui kegiatan mengklasifikasi ciri naskah drama dari tahun 1930 sampai tahun 1980 atau bahkan lebih baru lagi.  Atau dari naskah drama konvensional sampai dengan naskah drama modern/kontemporer/mutakhir. Setiap perkembangan naskah drama konvensional, kontemporer, dan mutakhir memiliki ciri penanda kreativitas penulis dengan keunikannya. Selain itu, hal yang tidak boleh dilupakan yaitu tentang pengarang. Setiap era pasti dipelopori oleh pengarang dengan gaya tertentu. Indonesia masih memiliki banyak pengarang naskah drama yang melahirkan karya yang menambah kekayaan khazanah naskah drama Indonesia. Pengetahuan inilah yang wajib dimiliki oleh siswa sebagai dasar belajar seni peran.
Pengembangan ranah kognitif juga diperluas dengan menanamkan pengetahuan tentang unsur-unsur intrinsik naskah drama. Pengetahuan tentang unsur-unsur intrinsik naskah drama sangat penting bagi siswa. Unsur intrinsik merupakan unsur pembangun naskah drama yang meliputi tema, tokoh/penokohan, perwatakan, alur, setting, dan dialog. Pengetahuan tersebut merupakan titik tolak pengembangan kompetensi apresiasi naskah drama, pementasan drama, dan penulisan kreatif naskah drama.
Siswa juga perlu memiliki dasar-dasar pengetahuan tentang teknik penulisan naskah drama. Kompetensi ini sangat diperlukan agar siswa memiliki wawasan langkah-langkah dan teknik penulisan naskah drama untuk mendukung keberhasilan siswa dalam pengekspresikan pengetahuan, pengalaman, dan obsesi kehidupan yang mereka rasakan dalam bentuk naskah drama. Naskah drama yang ditulis siswa dapat digunakan sebagai bahan pementasan. Dengan demikian, mereka terhindar dari kecenderungan penggunaan naskah drama dari para penulis yang tingkat kesulitan teknik pementasan dan tema-temanya tidak relevan dengan realitas kehidupan siswa.



No comments:

Post a Comment

Belajar Jarak Jauh-1

Rekan guru dan para siswa yang terkasih, Kondisi sekarang ini yang diakibatkan pandemi Covid-19, membuat berbagai aktivitas publik mendad...